Peringatan Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober bukan sekadar momentum untuk mengenang peristiwa sejarah yang terjadi pada 1928. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda merupakan pengingat bahwa persatuan bangsa lahir dari kesadaran untuk melampaui kepentingan pribadi dan golongan. Ketika para pemuda dari berbagai latar belakang suku, daerah, dan organisasi berkumpul serta mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan, mereka sesungguhnya sedang menunjukkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan kekuatan untuk membangun masa depan bersama.
Jika ditelaah lebih dalam, semangat yang ditunjukkan para pemuda pada masa itu tidak hanya memiliki dimensi sosial dan politik, tetapi juga mengandung nilai spiritual. Ada kesediaan untuk menundukkan ego, mengesampingkan kepentingan kelompok, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Nilai-nilai inilah yang menarik untuk direfleksikan melalui perspektif pendidikan sufistik.
Pendidikan sufistik atau at-tarbiyah Shuffiyah pada dasarnya merupakan proses pembentukan manusia melalui penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), pengendalian diri, dan penanaman akhlak mulia. Tasawuf bukanlah ajaran yang mengarahkan manusia untuk menjauh dari kehidupan sosial, melainkan jalan untuk membangun kesadaran batin agar kehadiran manusia di tengah masyarakat membawa manfaat. Seseorang yang memiliki kedalaman spiritual semestinya tidak hanya baik dalam hubungannya dengan Allah Swt., tetapi juga memiliki kepedulian terhadap sesama manusia dan kehidupan kebangsaan.
Dalam tradisi pendidikan sufistik, terdapat tiga tahapan penting dalam perjalanan pembentukan jiwa, yaitu takhalli, tahalli, dan tajalliKetiganya dapat menjadi kerangka refleksi untuk memahami sekaligus menghidupkan kembali nilai-nilai Sumpah Pemuda dalam kehidupan generasi muda saat ini.
Tahap pertama adalah takhalli, yaitu proses membersihkan diri dari berbagai sifat tercela yang menghalangi kematangan spiritual seseorang. Dalam konteks kebangsaan, semangat ini dapat dimaknai sebagai upaya membersihkan diri dari egoisme, kesombongan kelompok, fanatisme sempit, dan sikap merasa paling benar. Jika kita melihat sejarah Sumpah Pemuda, para pemuda saat itu telah memberikan teladan bagaimana identitas kedaerahan tidak harus dihilangkan, tetapi ditempatkan dalam kesadaran kebangsaan yang lebih luas. Mereka tidak membiarkan perbedaan menjadi tembok pemisah.
Sebaliknya, realitas generasi muda hari ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari polarisasi sosial, fanatisme kelompok, politik identitas, hingga perdebatan di ruang digital yang sering kali kehilangan etika. Tidak jarang perbedaan pandangan justru melahirkan permusuhan. Di sinilah pendidikan sufistik menemukan relevansinya. Pemuda perlu belajar mengendalikan ego sebelum berusaha mengubah keadaan. Sebab, perjuangan membangun bangsa akan sulit mencapai tujuannya apabila manusia yang menjalankannya masih dikuasai kesombongan dan kepentingan pribadi.
Setelah proses pembersihan diri, pendidikan sufistik mengenalkan tahap tahalli, yakni menghiasi jiwa dengan sifat-sifat terpuji (akhlakul karimah). Pada tahap ini, persatuan tidak cukup hanya dipahami sebagai semboyan atau kesepakatan politik, tetapi harus diwujudkan melalui perilaku sehari-hari. Menghargai perbedaan, menjaga persaudaraan, mengembangkan sikap toleran, serta mengutamakan kemaslahatan bersama merupakan bentuk konkret dari akhlak yang harus dimiliki generasi muda.
Dalam perspektif spiritual Islam, keberagaman merupakan bagian dari kehendak Allah Swt. yang harus disikapi dengan kebijaksanaan. Karena itu, mencintai sesama manusia, menjaga persaudaraan, dan merawat persatuan merupakan bagian dari pengamalan nilai-nilai keislaman dalam kehidupan sosial. Nasionalisme tidak harus dipertentangkan dengan spiritualitas. Justru, kecintaan terhadap tanah air dapat menjadi ruang pengabdian untuk menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat.
Tahap berikutnya adalah tajalli, yaitu tersingkapnya kesadaran batin yang melahirkan kejernihan hati dan kedalaman penghayatan terhadap nilai-nilai ketuhanan. Dalam konteks kepemudaan, tahap ini dapat direfleksikan melalui lahirnya generasi yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga kematangan moral dan kepekaan sosial. Pemuda tidak cukup hanya menjadi kelompok yang menguasai ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi, tetapi juga harus mampu menggunakan seluruh kapasitas tersebut untuk menjawab persoalan masyarakat.
Di sinilah peran Pemuda Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (Pemuda ICMI) menjadi penting. Sebagai bagian dari gerakan intelektual muda Muslim, Pemuda ICMI memiliki tanggung jawab untuk mempertemukan kecerdasan intelektual, kedalaman spiritual, dan kepedulian sosial. Kecendekiaan tidak semestinya hanya diukur dari kemampuan menguasai teori atau menghasilkan gagasan, tetapi juga dari sejauh mana pengetahuan tersebut memberikan manfaat bagi kehidupan.
Bangsa ini masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari ketimpangan pendidikan, kemiskinan, pengangguran, krisis lingkungan, hingga persoalan moral dan kepemimpinan. Menghadapi tantangan tersebut, pemuda tidak boleh berhenti pada kritik dan wacana. Diperlukan keberanian untuk menghadirkan gagasan, membangun kolaborasi, serta melahirkan gerakan nyata yang memberikan dampak bagi masyarakat. Kedalaman spiritual seharusnya melahirkan keberanian untuk membela kebenaran, bukan justru membuat seseorang pasif terhadap ketidakadilan.
Dengan demikian, pendidikan sufistik memberikan perspektif bahwa perjuangan pemuda tidak hanya membutuhkan kecerdasan berpikir, tetapi juga kebersihan hati dan keluhuran akhlak. Takhalli mengajarkan pemuda untuk melepaskan ego dan kepentingan sempit, tahalli membentuk karakter yang menjunjung persaudaraan dan persatuan, sedangkan tajalli mendorong lahirnya kesadaran untuk mengabdikan ilmu dan potensi bagi kemaslahatan umat dan bangsa.
Pada akhirnya, memperingati Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti pada seremoni, penggunaan atribut kepemudaan, ataupun pengulangan ikrar sejarah. Momentum ini perlu menjadi ruang untuk mengevaluasi kembali sejauh mana generasi muda telah mengambil peran dalam perjalanan bangsa. Indonesia tidak hanya membutuhkan pemuda yang pintar berbicara tentang perubahan, tetapi juga pemuda yang mampu mengendalikan dirinya, menghargai perbedaan, menjaga integritas, dan bekerja untuk kepentingan bersama.
Sebab, perubahan besar sebuah bangsa tidak selalu dimulai dari kekuasaan atau jabatan, tetapi dapat berawal dari perubahan kesadaran manusia yang menjalankannya. Pemuda yang mampu menaklukkan egonya sendiri akan lebih mudah membangun persatuan dengan orang lain. Pemuda yang memiliki kedalaman spiritual akan memahami bahwa ilmu, kekuasaan, dan kesempatan bukanlah alat untuk meninggikan diri, melainkan amanah untuk memberikan manfaat.
Inilah makna Sumpah Pemuda yang perlu terus dihidupkan melalui pendidikan sufistik: membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bersih hatinya, luhur akhlaknya, dan nyata pengabdiannya. Karena pada akhirnya, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa maju pengetahuan generasi mudanya, tetapi juga oleh seberapa baik karakter dan kesadaran kemanusiaan yang mereka miliki.
Topik:#Cendekia Muda


