Evaluasi Satu Tahun Kepemimpinan Wali Kota Bekasi dan Wakil Wali Kota Bekasi (20 Februari 2025 – 20 Februari 2026)

Pada aspek reformasi birokrasi dan pelayanan publik, capaian Pemerintah Kota Bekasi patut diapresiasi. Predikat Kategori A (Pelayanan Prima)

Oleh: Imamuddin, S.Pd.I

Ketua MPD Pemuda ICMI Kota Bekasi

Genap satu tahun kepemimpinan Tri Adhianto bersama Abdul Harris Bobihoe pada 20 Februari 2026 menjadi momentum reflektif untuk menilai arah, capaian, serta tantangan pembangunan Kota Bekasi. Dalam perspektif kebijakan publik, satu tahun adalah fase konsolidasi: periode di mana janji kampanye mulai diuji oleh realitas birokrasi dan ekspektasi publik. Secara umum, terdapat sejumlah indikator makro yang menunjukkan progres signifikan, khususnya pada sektor reformasi birokrasi, pelayanan kesehatan, dan pembangunan manusia. Namun demikian, sebagaimana watak kota penyangga metropolitan dengan kompleksitas urban yang tinggi, Bekasi masih bergulat dengan persoalan struktural yang membutuhkan pendekatan lebih sistemik dan berkelanjutan.

Pada aspek reformasi birokrasi dan pelayanan publik, capaian Pemerintah Kota Bekasi patut diapresiasi. Predikat Kategori A (Pelayanan Prima) dari Kementerian PAN-RB dengan skor indeks 4,73 bukan sekadar simbol administratif, melainkan refleksi dari transformasi tata kelola yang semakin responsif. Digitalisasi melalui beberapa aplikasi yang terdapat di kedinasan dan OPD yang mempercepat proses perizinan hingga 40 persen menunjukkan komitmen terhadap efisiensi dan transparansi. Dalam teori administrasi publik modern, percepatan layanan bukan hanya soal waktu, tetapi juga pengurangan biaya transaksi sosial dan ekonomi yang selama ini membebani masyarakat. Keberhasilan ini memperkuat legitimasi pemerintahan sekaligus membangun kepercayaan publik modal sosial yang sangat penting bagi stabilitas pembangunan jangka panjang.


Di sektor kesehatan, realisasi Universal Health Coverage (UHC) melalui program “Kobe Sehat” menjadi tonggak penting. Kebijakan yang memungkinkan warga mengakses layanan kesehatan hanya dengan KTP menegaskan keberpihakan pemerintah terhadap hak dasar masyarakat. Tidak adanya lagi laporan penolakan pasien di RSUD maupun rumah sakit mitra menandakan bahwa prinsip inklusivitas pelayanan mulai terimplementasi secara nyata. Capaian ini juga beriringan dengan peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bekasi menjadi 84,43 (kategori Sangat Tinggi), penurunan angka kemiskinan ke 3,96 persen, serta turunnya Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) menjadi 7,33 persen. Secara statistik, tren ini menunjukkan fondasi pembangunan manusia yang kian menguat, terutama bila didukung program pelatihan kerja terintegrasi yang menyasar kebutuhan pasar tenaga kerja.

Namun, pembangunan kota tidak hanya diukur melalui indikator makro, melainkan juga dari kemampuan pemerintah menjawab persoalan klasik yang menyentuh kehidupan sehari-hari warga. Penanganan banjir di 12 titik krusial masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan secara komprehensif. Setiap musim hujan, persoalan drainase, sedimentasi, dan tata ruang kembali menjadi sorotan. Demikian pula kualitas infrastruktur jalan di luar koridor protokol yang masih jauh dari standar kenyamanan dan keselamatan. Pembangunan Jembatan Lengkung Kalimalang memang menjadi solusi strategis untuk mengurai kemacetan, dan penghargaan Adipura Kencana mencerminkan kemajuan dalam pengelolaan lingkungan. Akan tetapi, temuan audiensi dan observasi lapangan MPD Pemuda ICMI Kota Bekasi menunjukkan bahwa manajemen persampahan masih menghadapi persoalan tata kelola, mulai dari sistem pengangkutan, kapasitas pengolahan, hingga aspek integritas dan kompetensi sumber daya manusia pengelolanya. Reformasi kelembagaan di sektor ini menjadi mendesak, termasuk penunjukan pejabat yang profesional, berintegritas, dan memiliki visi ekologis yang jelas.

Berangkat dari temuan tersebut, MPD Pemuda ICMI Kota Bekasi mendorong langkah strategis yang lebih transformatif, salah satunya melalui penguatan pendidikan karakter berbasis lokalitas. Gagasan menghadirkan muatan lokal PLBB (Pendidikan Lingkungan dan Budaya Bekasi) di sekolah-sekolah merupakan ikhtiar jangka panjang untuk membangun kesadaran ekologis sekaligus identitas kebekasian yang kuat. Pendidikan lingkungan yang terintegrasi dengan nilai budaya lokal dapat menjadi instrumen preventif terhadap krisis sampah, degradasi lingkungan, hingga praktik-praktik koruptif dalam tata kelola publik. Generasi muda harus dibentuk menjadi warga kota yang cinta lingkungan, peka terhadap problem sosial, anti-korupsi, dan tidak tercerabut dari akar sejarahnya. Pembangunan fisik tanpa pembangunan karakter hanya akan melahirkan kota yang megah tetapi rapuh secara moral.

Dengan demikian, satu tahun kepemimpinan ini menunjukkan fondasi yang relatif progresif dalam reformasi pelayanan publik dan pembangunan manusia. Akan tetapi, tantangan struktural seperti banjir, kualitas infrastruktur jalan, dan tata kelola persampahan memerlukan pendekatan kebijakan yang lebih integratif, kolaboratif, dan berbasis data. Pemerintahan yang baik bukan hanya tentang capaian penghargaan, melainkan tentang konsistensi menyelesaikan masalah yang paling dekat dengan denyut kehidupan warganya. Di sisa masa jabatan, publik berharap kepemimpinan ini mampu bergerak dari fase konsolidasi menuju fase akselerasi—menjadikan Kota Bekasi bukan sekadar kota penyangga ibu kota, tetapi kota yang matang secara tata kelola, berdaya saing, dan berkarakter.