Oleh: Andi Ibrahim Ali, Sekretaris MPD Pemuda ICMI Kota Bekasi
Kegiatan buka puasa bersama yang dilakukan oleh MPD Pemuda ICMI Kota Bekasi pada Ramadan ini dapat dibaca dalam kerangka tersebut. Di balik suasana silaturahmi yang cair, sesungguhnya terdapat proses yang lebih penting: membangun kesadaran kolektif, memperkuat identitas organisasi, dan merumuskan arah gerakan kepemudaan yang lebih terstruktur.
Dalam perspektif pemikiran Louis Althusser, ideologi tidak bekerja secara kasar melalui paksaan, melainkan melalui mekanisme sosial yang halus dan berulang. Althusser menyebut mekanisme ini sebagai Ideological State Apparatus, yaitu perangkat sosial yang berfungsi menanamkan nilai dan cara pandang tertentu kepada masyarakat. Sekolah, keluarga, media, hingga organisasi sosial menjadi medium tempat ideologi direproduksi secara terus-menerus.
Dalam konteks ini, organisasi kepemudaan memiliki posisi yang sangat strategis. Ia bukan sekadar wadah berkumpulnya anak muda, tetapi juga ruang produksi dan reproduksi nilai. Pertemuan-pertemuan informal seperti buka puasa bersama, diskusi, ataupun forum konsolidasi organisasi menjadi arena di mana identitas kolektif dibentuk dan dipertahankan.
Namun, proses ideologis tidak hanya berhenti pada internalisasi nilai. Ia juga berhubungan dengan bagaimana sebuah gagasan memperoleh legitimasi di tengah masyarakat. Di sinilah pemikiran Antonio Gramsci tentang Cultural Hegemony menjadi relevan.
Bagi Gramsci, kekuasaan tidak semata-mata dibangun melalui dominasi politik atau kekuatan negara, tetapi melalui kemampuan sebuah kelompok untuk membangun kepemimpinan moral dan intelektual di tengah masyarakat. Kelompok yang mampu memproduksi gagasan, membangun konsensus, serta menawarkan arah moral bagi publik akan memiliki pengaruh kultural yang jauh lebih kuat daripada sekadar kekuasaan struktural.
Dalam kerangka inilah gerakan kepemudaan seharusnya ditempatkan. Pemuda tidak cukup hanya menjadi aktor sosial yang reaktif terhadap isu-isu publik, tetapi juga harus menjadi produsen gagasan yang mampu membentuk orientasi berpikir masyarakat. Tanpa kapasitas intelektual semacam ini, organisasi kepemudaan hanya akan menjadi ruang aktivitas tanpa arah ideologis yang jelas.
Karena itu, kegiatan silaturahmi Ramadan yang dilakukan oleh MPD Pemuda ICMI Kota Bekasi tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari proses konsolidasi yang lebih luas untuk memperkuat jaringan organisasi sekaligus mempersiapkan agenda-agenda strategis berikutnya. Rencana pelantikan pengurus cabang di tingkat kecamatan serta penyelenggaraan forum International Youth Interfaith Dialogue merupakan langkah yang menunjukkan upaya memperluas jangkauan gerakan hingga ke tingkat akar rumput sekaligus membuka ruang dialog lintas identitas.
Langkah-langkah tersebut memperlihatkan bahwa organisasi tidak hanya bergerak dalam ruang sosial lokal, tetapi juga berusaha membangun relevansi intelektual yang lebih luas. Dialog lintas iman, misalnya, bukan sekadar forum diskusi, melainkan upaya membangun kesadaran generasi muda bahwa kemajemukan merupakan realitas sosial yang harus dikelola melalui dialog dan pemahaman bersama.
Semua proses ini pada akhirnya bermuara pada satu tujuan utama: memperkuat ideologi gerakan Pemuda ICMI yang berlandaskan pada tiga pilar utama, yaitu kebangsaan, keislaman, dan kecendekiawanan.
Kebangsaan memberikan orientasi bahwa gerakan pemuda harus berakar pada komitmen terhadap persatuan dan keutuhan bangsa. Keislaman menghadirkan dimensi etika dan spiritual yang menjaga agar setiap gerakan tetap berpijak pada nilai moral. Sementara kecendekiawanan menjadi energi intelektual yang mendorong lahirnya gagasan-gagasan konstruktif bagi kehidupan publik.
Ketiga nilai ini tidak dapat berdiri sendiri. Tanpa kebangsaan, keislaman dapat terjebak dalam eksklusivitas identitas. Tanpa keislaman, kebangsaan berisiko kehilangan dimensi moralnya. Dan tanpa kecendekiawanan, keduanya akan kehilangan daya kritis yang dibutuhkan untuk menghadapi kompleksitas zaman.
Karena itu, penguatan ideologi organisasi tidak dapat dilakukan hanya melalui dokumen formal atau slogan-slogan organisasi. Ia harus dibangun melalui praktik sosial yang berulang: pertemuan, diskusi, konsolidasi, dan berbagai aktivitas kolektif yang mempertemukan gagasan dengan pengalaman sosial para anggotanya.
Di sinilah makna strategis dari kegiatan-kegiatan organisasi yang sering kali dianggap sederhana. Ia bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan bagian dari proses panjang membangun kesadaran kolektif generasi muda.
Jika meminjam kerangka Althusser, kegiatan-kegiatan tersebut menjadi ruang reproduksi ideologi melalui praktik sosial sehari-hari. Sementara dalam perspektif Gramsci, ia merupakan bagian dari upaya membangun kepemimpinan intelektual yang mampu membentuk orientasi kultural masyarakat.
Dengan demikian, gerakan kepemudaan tidak lagi hanya dipahami sebagai aktivitas organisasi semata, tetapi sebagai proses panjang membangun fondasi ideologis bagi masa depan masyarakat. Di tengah tantangan sosial, politik, dan kultural yang semakin kompleks, upaya memperkuat nilai kebangsaan, keislaman, dan kecendekiawanan menjadi semakin relevan.
Bukan hanya bagi organisasi, tetapi bagi masa depan generasi muda Indonesia secara keseluruhan.