Revitalisasi Tritangtu di Buana: Menata Episentrum Kepemudaan di Kota Bekasi

kematangan intelektual, bahwa Islam di Tanah Sunda tidak datang untuk menghapus peradaban lokal, melainkan menyempurnakannya

Oleh : Muhsinin Mabrur (Wakil Ketua Pemuda ICMI Kota Bekasi)
Kota Bekasi hari ini bukan sekadar kota satelit bagi Jakarta, Kota Bekasi telah bertransformasi menjadi megapolitan dengan kompleksitas sosial dan ekonomi yang tinggi. Di tengah arus urbanisasi dan disrupsi digital, organisasi kepemudaan seperti Pemuda ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia) Kota Bekasi dihadapkan pada tantangan besar, bagaimana tetap relevan tanpa kehilangan identitas? Jawabannya mungkin tersimpan dalam naskah kuno Sanghyang Siksakanda ng Karesian melalui konsep Tritangtu Buana.


​Tritangtu: Keseimbangan Tiga Pilar

​Secara filosofis, Tritangtu adalah hukum keseimbangan yang menopang kehidupan. Konsep ini membagi otoritas ke dalam tiga fungsi: 

Rama (Pendahulu/Sumber Nilai), Resi (Intelektual/Hukum), dan Ratu (Eksekutif/Pelaksana). Jika ditarik ke dalam konteks organisasi modern seperti Pemuda ICMI, Tritangtu menawarkan peta jalan untuk menciptakan kepemimpinan yang harmonis dan berdampak.

  • ​Pilar Rama: Merawat 'Kabuyutan' Intelektual

Dalam tradisi Sunda, Rama adalah penjaga Kabuyutan, wilayah suci yang menjadi jati diri. Bagi Pemuda ICMI Bekasi, Kabuyutan adalah nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan. Di era di mana disinformasi merajalela, Pemuda ICMI harus menjadi "Rama" yang menjaga marwah organisasi agar tidak terombang-ambing oleh kepentingan politik praktis sesaat. Implementasinya adalah dengan menjadikan organisasi sebagai pusat nilai (center of values) yang menjaga etika berkomunikasi dan integritas moral di tengah masyarakat Bekasi yang heterogen.

  • Pilar Resi: Karesian sebagai Inkubator Pengetahuan

Resi bertanggung jawab atas aturan, ilmu, dan kebenaran. Pemuda ICMI harus menghidupkan semangat Karesian di Bekasi. Organisasi ini tidak boleh hanya terjebak dalam seremoni, melainkan harus menjadi wadah bagi para intelektual muda untuk melakukan riset, kajian kebijakan publik, dan inovasi teknologi. Mengingat Bekasi adalah kota industri dan jasa, Pemuda ICMI berperan sebagai penyeimbang kebijakan pemerintah kota dengan memberikan masukan-masukan saintifik dan objektif (intelektualisme progresif).

  • Pilar Ratu: Karanggan dan Eksekusi Program

Ratu adalah pelaksana atau penguasa dalam wilayah Karanggan (pertahanan/fisik). Dalam organisasi, ini adalah fungsi manajerial dan eksekusi program. Pemuda ICMI Bekasi harus memiliki ketangkasan (agility) dalam bekerja. Program kerja tidak boleh hanya berhenti di atas kertas, tetapi harus nyata menyentuh akar rumput, mulai dari pemberdayaan UMKM lokal hingga advokasi isu-isu lingkungan seperti pengelolaan sampah dan drainase kota.

​Sinergi dalam Ekosistem Urban Bekasi

​Kegagalan organisasi seringkali terjadi karena ketimpangan pilar-pilar ini. Pemimpin yang hanya mengandalkan kekuasaan (Ratu) tanpa landasan ilmu (Resi) akan menjadi tiran. Sebaliknya, intelektual yang hanya berteori tanpa keberanian eksekusi akan menjadi mandul.
​Dalam konteks Bekasi, Tritangtu di Buana mengajak Pemuda ICMI untuk menerapkan pola Silih Asih, Silih Asah, dan Silih Asuh:
  • ​Silih Asih: Membangun jejaring sosial yang berbasis rasa kemanusiaan di tengah masyarakat urban yang cenderung individualis.
  • ​Silih Asah: Menjadi ruang bagi pemuda Bekasi untuk saling meningkatkan skill teknis dan wawasan intelektual.
  • ​Silih Asuh: Memberikan pendampingan dan kepemimpinan yang mengayomi bagi anggota dan masyarakat luas.
​Filosofi Sunda mengajarkan: "Hana nguni hana mangke" (Ada masa lalu ada masa kini). Dengan menghidupkan kembali nilai Tritangtu, Pemuda ICMI Kota Bekasi tidak hanya sedang melestarikan budaya, tetapi sedang membangun pondasi organisasi masa depan. Sebuah organisasi yang memiliki ketajaman intelektual (Resi), ketegasan dalam aksi (Ratu), dan keluhuran budi pekerti (Rama).
​Hanya dengan keseimbangan inilah, Pemuda ICMI mampu mewujudkan Bekasi yang tidak hanya maju secara infrastruktur, tetapi juga beradab secara kultur.

Relevansi dan korelasi antara ideologi Pemuda ICMI dengan Tri Tangtu Buana adalah ETIS dan VALID, dengan syarat posisinya sebagai analogi kultural dan jembatan komunikasi dakwah, bukan sebagai sumber ideologi yang setara dengan Al-Qur'an dan Sunnah.

Ini justru menunjukkan kematangan intelektual, bahwa Islam di Tanah Sunda tidak datang untuk menghapus peradaban lokal, melainkan menyempurnakannya. Pemuda ICMI Kota Bekasi yang berbasis di tanah Sunda-Betawi memiliki modal kultural yang kaya untuk berdialog, berdakwah, dan membangun peradaban dengan akar yang kokoh, baik secara Islami maupun kultural.