ENAM AGAMA SATU SUARA: PEMUDA BEKASI DEKLARASIKAN KOTA TOLERAN NOMOR SATU INDONESIA

International Youth Interfaith Dialogue 2026 telah menorehkan tinta baru dalam sejarah gerakan pemuda di Kota Bekasi.

Kota Bekasi  Sebuah forum dialog yang langka dan penuh makna terselenggara dalam rangkaian International Youth Interfaith Dialogue 2026 yang digelar oleh Pemuda ICMI Kota Bekasi bekerja sama dengan Griya Moderasi Beragama Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Indonesia (UNISMA). Diprakarsai oleh Ketua Panitia Reza Maulana Firdaus dan didukung penuh oleh Ketua Pemuda ICMI Kota Bekasi, Imamuddin, kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Bekasi siap menjadi garda terdepan moderasi beragama di Indonesia.

Acara dibuka dengan Doa Bersama Lintas Agama yang dipimpin oleh para pemuda dari berbagai komunitas keagamaan  sebuah gestur simbolis sekaligus substantif yang menegaskan bahwa perbedaan keyakinan justru menjadi titik temu, bukan titik pecah.


Class of Tolerance: Enam Agama Berbagi Kearifan dalam Satu Panggung

Sesi paling dinantikan dalam forum ini adalah Class of Tolerance  sebuah dialog lintas agama yang dipandu oleh Andi Ibrahim Ali dan menghadirkan perwakilan pemuda dari enam agama yang diakui negara. Satu per satu, mereka naik ke panggung untuk berbagi nilai-nilai keharmonisan dari tradisi iman masing-masing.



Mewakili Islam, Musinin Mabrur membuka dengan konsep Taaruf  bahwa keberagaman diciptakan agar manusia saling mengenal (lita'arafu), karena tanpa saling mengenal, mustahil ada saling memahami. Ia juga menyinggung prinsip muamalah dalam Islam yang mendorong kerja sama sosial dan ekonomi dengan pemeluk agama lain, namun tetap menjaga batas akidah sesuai prinsip lakum dinukum waliyadin. Puncaknya, ia mengingatkan seluruh peserta akan misi Islam sebagai rahmatan lil alamin  rahmat bagi seluruh alam semesta.

Dari perspektif Kristen, Toni Ronaldo Nanohi menekankan bahwa umat Kristiani diajarkan untuk senantiasa mengusahakan perdamaian dengan semua orang tanpa memandang latar belakang. Ia merangkumnya dalam satu prinsip sederhana namun universal yang ia sebut Golden Rule: "Perlakukan orang lain seperti engkau ingin diperlakukan." Menghormati orang lain, tegasnya, adalah syarat agar kita pun layak dihormati.

Perwakilan Katolik, Mbak Mike Perawati, membawa pesan dari Ajaran Sosial Gereja bahwa toleransi bukan sekadar teks suci yang dibaca, melainkan harus turun menjadi perilaku nyata  termasuk sikap tegas menolak segala bentuk kekerasan berbasis agama. Baginya, perbedaan bukan penghalang, melainkan kekuatan dalam perziarahan hidup manusia bersama.

Mas Ganis Esa Manura tampil membawa kearifan Hindu melalui dua prinsip agung. Pertama, Ekam Sat Wiprah Bahudawitanti  kebenaran itu satu, namun orang bijaksana menyebutnya dengan berbagai nama. Prinsip ini menjadi fondasi Hindu dalam memandang perbedaan nama dan wajah Tuhan di berbagai tradisi. Kedua, Tri Hita Karana  menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta.

Mas Rinto Supriadi mewakili Buddha dengan memperkenalkan konsep Brahma Wihara, yakni empat sifat luhur yang seharusnya menjadi karakter setiap insan: Meta (cinta kasih universal), Karuna (welas asih), Mudita (turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain), dan Upeka (keseimbangan batin yang tidak reaktif terhadap kebencian). Ia juga mengingatkan prinsip sebab-akibat yang relevan: menghormati agama lain berarti membantu agama sendiri berkembang, sebaliknya mencela agama lain hanya akan merugikan diri sendiri.

Menutup sesi, Mas Aldi Destian Satya dari Konghucu membawa dua nilai inti: Satya  kepatuhan pada hukum Tuhan  dan Tepa Salira  tenggang rasa, yakni tidak melakukan kepada orang lain apa yang kita sendiri tidak ingin rasakan. Ia menutup paparannya dengan pesan yang menggetarkan: kedamaian dunia hanya bisa dimulai dari kemampuan setiap individu untuk berdamai dan membina dirinya sendiri.


Deklarasi Bersejarah: Bekasi Menuju Kota Toleran Nomor Satu

Momentum paling bersejarah hadir di penghujung acara. Seluruh peserta forum pemuda dari enam agama yang sepanjang hari telah duduk bersama, berdialog, dan saling mendengar  berdiri bersama membacakan Deklarasi Pemuda Kota Bekasi.



Dengan lantang dan penuh keyakinan, mereka menyatakan komitmen bersama untuk menjadikan Kota Bekasi sebagai Kota Toleran Nomor Satu di Indonesia. Deklarasi itu memuat tiga komitmen utama: menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, menguatkan sikap moderat dalam kehidupan sehari-hari, serta menolak tegas segala bentuk intoleransi dan diskriminasi dalam bentuk apapun.


International Youth Interfaith Dialogue 2026 telah menorehkan tinta baru dalam sejarah gerakan pemuda di Kota Bekasi. Sebuah pesan kuat telah disampaikan kepada Indonesia dan dunia: bahwa di kota yang beragam ini, generasi mudanya memilih jalan dialog, bukan konfrontasi  memilih untuk saling mengenal, bukan saling curiga.

(Red)