Metafora Gelombang Digital: Analisis Logis Gaya Komunikasi Gubernur Dedi Mulyadi – Ombak Populisme yang Mengguncang Pantai Politik dan Sosial Masyarakat Urban Bekasi

Seperti gelombang yang lahir dari kedalaman samudra budaya Sunda, gaya komunikasi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi muncul sebagai ombak populis

Penulis: Tim Analisis Komunikasi Politik ICMI Bekasi

Abstrak Seperti gelombang yang lahir dari kedalaman samudra budaya Sunda, gaya komunikasi Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi muncul sebagai ombak populis yang menyapu pantai politik Jawa Barat, khususnya di perairan urban Kota Bekasi. Artikel ini menganalisis secara logis bagaimana gaya ini – yang menggabungkan narasi heroik-emotif, konten digital viral, dan simbolisme budaya – memengaruhi dinamika politik dan sosial masyarakat urban. Dengan komparasi terhadap pendahulu Ridwan Kamil, serta data empiris dari survei kepuasan publik (94,7–95%), kami menyajikan keunggulan seperti kedekatan emosional yang membangun kepercayaan, sekaligus kelemahan seperti solusi instan yang mengabaikan perencanaan jangka panjang. Dampaknya bagi Bekasi: peningkatan responsivitas terhadap banjir dan infrastruktur, namun juga polarisasi sosial akibat kebijakan kontroversial. Pendekatan metaforis ini menegaskan bahwa ombak semacam ini, meski menyegarkan, berisiko erosi fondasi kebijakan yang kokoh.

Kata Kunci: Gaya komunikasi populis, Dampak politik-sosial, Masyarakat urban Bekasi, Komparasi Ridwan Kamil


Pendahuluan: Gelombang yang Lahir dari Sungai Budaya

Bayangkan politik sebagai sungai yang mengalir deras di lembah Jawa Barat: airnya adalah aspirasi rakyat, arusnya adalah dinamika kekuasaan, dan bendungannya adalah tantangan urban seperti banjir di Bekasi. Di sini, Dedi Mulyadi – atau Kang Dedi – muncul bukan sebagai bendungan beton yang kaku, melainkan sebagai perahu dayung yang lincah, mengayuh dengan narasi "pemimpin yang hadir langsung". Gaya komunikasinya, yang disebut "kepemimpinan performatif", menggabungkan elemen digital modern dengan akar budaya Sunda, menciptakan gelombang yang viral di media sosial. Namun, seperti sungai yang banjir, gelombang ini membawa nutrisi sekaligus lumpur: kepercayaan publik yang melonjak, tapi juga erosi kebijakan berkelanjutan.

Artikel ini bertujuan menganalisis gaya komunikasi Kang Dedi secara logis-metaforis, fokus pada dampak politik (seperti polarisasi elektoral) dan sosial (integrasi komunitas urban Bekasi), dengan komparasi terhadap Ridwan Kamil. Data empiris dari survei Indikator Politik Indonesia (2025) menjadi jangkar analisis, menyajikan keunggulan, kekurangan, dan kelemahan. Sebagai publikasi Pemuda ICMI Kota Bekasi, kami menekankan nilai-nilai keadilan sosial dan komunikasi yang inklusif, sesuai semangat cendekiawan muslim yang membangun dari akar umat.

Gaya Komunikasi KDM



Metode: Mengukur Arus dengan Jaring Logika

Pendekatan ini mengintegrasikan analisis konten kualitatif terhadap 20 postingan X (Twitter) Kang Dedi (@DediMulyadi71) sejak Januari 2025, yang menyoroti isu Bekasi (seperti banjir dan infrastruktur), dengan data kuantitatif dari survei kepuasan publik. Komparasi dilakukan melalui kerangka logis: dimensi emosional vs. rasional, berdasarkan teori komunikasi politik Habermas (dialog rasional) dan populisme Laclau (narasi "kami vs. mereka"). Sumber sekunder dari media nasional (Kompas, Tempo) diverifikasi untuk menghindari bias, memastikan analisis tetap netral seperti air sungai yang jernih.


Analisis: Ombak Populisme di Pantai Bekasi

Gaya Komunikasi: Perahu Dayung di Laut Digital

Gaya Kang Dedi adalah metafora perahu dayung di lautan digital: lincah, dekat pantai (rakyat), tapi rentan terombang-ambing angin kontroversi. Logisnya, strategi ini mencakup lima pilar:

  1. Narasi heroik-emotif, di mana ia "hadir langsung" seperti pahlawan Sunda yang menegur preman atau membagikan bantuan.
  2. Konten viral berbasis video pendek, dijuluki "Gubernur Konten" karena impresi YouTube mencapai jutaan views per bulan.
  3. Simbolisme budaya Sunda, seperti bahasa "Kang" yang membumi.
  4. Soft-power digital, menggabungkan empati dengan tegas.
  5. Interaksi langsung via X, dengan rata-rata 50.000 engagement per post terkait Bekasi.

Data empiris: Postingan X-nya tentang banjir Bekasi (Maret 2025) meraup 23.000 likes, menunjukkan keunggulan dalam membangun kedekatan emosional 94,7% responden survei Indikator merasa "sangat puas" dengan responsivitasnya. Namun, kelemahan muncul: konten sering dianggap "pencitraan semata", dengan 4% responden "kurang puas" karena solusi instan seperti pembongkaran 420 bangunan liar tanpa kompensasi memadai, memicu protes warga tergusur.

Dampak Politik: Gelombang yang Menggoyang Elektoral

Secara politik, gaya ini seperti ombak yang menggerus tebing partai oposisi: popularitas Kang Dedi melonjak 15% di survei LSI (Mei 2025), membuatnya "bintang baru" di Jawa Barat. Di Bekasi, urban yang multikultural, ini memperkuat basis Golkar dengan narasi anti-pemekaran (September 2025), menolak wacana pemisahan Bekasi dari Jabar untuk menjaga integrasi. Keunggulan: transparansi anggaran, seperti penghapusan tunggakan PBB (Agustus 2025), meningkatkan dukungan elektoral hingga 41% "sangat puas".

Kekurangan: Kebijakan kontroversial seperti larangan study tour sekolah atau vasektomi sebagai syarat bansos memicu polarisasi, dengan 612 quotes negatif di X post Tempo (Mei 2025). Logisnya, ini mengabaikan dialog rasional, berisiko erosi kepercayaan jangka panjang – seperti ombak yang mundur meninggalkan pasir basah.

Dampak Sosial: Nutrisi bagi Masyarakat Urban Bekasi

Bekasi, sebagai kota pelabuhan urban dengan 2,5 juta jiwa, menerima "nutrisi" dari gelombang ini: sorotan normalisasi Sungai Bekasi (Maret 2025) mengurangi banjir 20% (data BPS Jabar), dan teguran terhadap istri Wali Kota yang "menginap di hotel saat banjir" (Maret 2025) membangun citra pemimpin yang "ada di tengah rakyat". Survei Publica News (Mei 2025) mencatat 54% responden Bekasi "cukup puas" dengan peningkatan infrastruktur, naik dari 72% era sebelumnya.

Namun, kelemahan sosial: pembongkaran bangunan liar tanpa kompensasi (Juli 2025) memicu keresahan 1.000 warga, dengan 1587 replies kritis di X Kompas. Ini seperti ombak yang membawa ikan, tapi juga membuang sampah – memperlemah kohesi sosial di komunitas urban yang rentan, di mana 0,3% responden survei merasa "tidak puas" karena ketidakadilan.

Komparasi: Dedi vs. Ridwan Kamil – Ombak vs. Angin

Komparasi logis dengan Ridwan Kamil (2018–2024) seperti membandingkan ombak (Dedi: populis, emosional, tradisional Sunda) dengan angin (Ridwan: modern, rasional, digital estetis). Tabel berikut menyajikan perbandingan empiris:

AspekDedi Mulyadi (2025)Ridwan Kamil (2018–2024)Keunggulan/Kekurangan Dedi
Gaya DigitalKonten viral emosional (23K likes/post Bekasi)Estetis, infografis (rata 15K likes)Keunggulan: Lebih engaging; Kekurangan: Kontroversial (612 quotes negatif)
Kepuasan Publik94,7% (Indikator, Mei 2025)88% (LSI, 2023)Keunggulan: Tertinggi se-Jabar
Dampak Sosial BekasiRespons banjir cepat, tapi protes tergusurProgram kota pintar, kurang emosionalKekurangan: Solusi instan vs. berkelanjutan
PolitikPopulisme "wong cilik" (15% naik elektabilitas)Branding modern (dukungan bobotoh)Keunggulan: Basis akar rumput; Kekurangan: Risiko identitas etnis

Sumber: Survei Indikator & LSI. Logisnya, Dedi lebih unggul dalam empati urban Bekasi (naik 6% kepuasan), tapi lemah dalam perencanaan, di mana Ridwan unggul 10% dalam kebijakan infrastruktur jangka panjang.


Kesimpulan: Menuju Sungai yang Berkelanjutan

Gaya komunikasi Kang Dedi adalah ombak yang menyegarkan pantai Bekasi, membawa kepercayaan tinggi (95% kepuasan) dan responsivitas politik-sosial, tapi juga erosi kelemahan seperti kontroversi dan solusi instan. Komparasi dengan Ridwan Kamil menegaskan: populisme emosional unggul dalam kedekatan, tapi butuh logika rasional untuk fondasi kokoh. Bagi Pemuda ICMI Kota Bekasi, rekomendasi adalah hibridisasi: gabungkan gelombang dengan bendungan dialog inklusif untuk masyarakat urban yang adil. Seperti sungai yang akhirnya bermuara ke lautan, gaya ini berpotensi membangun Jabar Istimewa, asal tak tenggelam dalam arus viral semata.

Referensi