Kolom Satire — Pemuda ICMI Kota Bekasi
Selamat datang di Kota Bekasi, kota yang grafik ekonominya digambar melengkung secantik catwalk, sementara denah ruang kelasnya digambar sesak seperti gerbong KRL jam pulang kerja. Realisasi investasi tembus Rp5,3 triliun hanya dalam satu triwulan, dari ribuan proyek penanaman modal asing dan dalam negeri—angka segemuk itu dirayakan layaknya gol kemenangan injury time, lalu dipajang gagah di baliho sepanjang Jalan Ahmad Yani. Sayangnya, tak jauh dari baliho megah itu, berdiri ruang kelas yang lebih mirip kandang ayam petelur versi upgrade: 44 anak duduk berhimpitan seperti sarden dalam kaleng, berbagi satu papan tulis, satu kipas angin sekarat, dan satu mimpi yang sama—segera lulus sebelum kelasnya ambruk duluan.
Mari kita nikmati kontrasnya pelan-pelan, seperti menikmati kopi pahit tanpa gula karena gulanya sudah dialokasikan ke pos lain.
Kelas Penuh, Investor Pun Senang
Di satu sisi, Dinas Penanaman Modal melaporkan dengan bangga bahwa ribuan proyek investasi mengalir ke Kota Bekasi, didominasi sektor industri pengolahan. Pejabatnya sampai rutin mengundang puluhan pelaku usaha setiap minggu hanya untuk mengingatkan soal pelaporan administratif—saking pedulinya pemerintah pada kenyamanan investor.
Di sisi lain, ribuan anak usia sekolah harus duduk berdesakan di ruang kelas yang sama, karena standar rombongan belajar yang ideal—32 siswa per kelas sesuai aturan kementerian—dianggap terlalu mewah untuk diwujudkan sekaligus. Maka pemerintah, dengan penuh kebijaksanaan, menetapkan jalan tengah yang elegan: bukan 44 atau 45 siswa seperti tahun lalu, tapi cukup 40 saja. Sebuah kompromi yang membuat kita bertanya-tanya, apakah standar pendidikan nasional juga bisa dinegosiasikan seperti UMK.
Bayangkan rapat strategisnya: "Pak, kita nggak sanggup capai 32 siswa per kelas tahun ini." "Baik, gimana kalau 40? Itung-itung diskon 4-5 siswa dari tahun lalu, lumayan kan." Dan begitulah, angka 40 lahir bukan dari kajian ideal pendidikan, melainkan dari proses tawar-menawar yang lebih mirip diskon akhir tahun di mal.
Guru Kurang, Investor Tetap Mengalir
Yang membuat ironi ini makin renyah, Pemkot sendiri mengakui kekurangan sekitar 1.500 guru SMP. Solusinya pun kreatif: menitipkan sebagian siswa ke sekolah swasta, sambil sekaligus membantu guru-guru swasta memenuhi jam mengajar agar sertifikasinya bisa cair. Win-win solution, kata orang kantoran. Tapi hanya 20 persen sekolah swasta yang dilibatkan dalam skema ini—jadi mari sebut saja ini bukan solusi struktural, melainkan solusi tambal yang ditambal lagi dengan tambalan lain.
Sementara itu, investor asing yang menanamkan modalnya di sektor elektronik dan kendaraan listrik tidak perlu menunggu satu tahun ajaran penuh untuk tahu nasib mereka. Cukup datang, urus izin, laporkan LKPM tepat waktu, dan selesai. Bandingkan dengan orang tua calon siswa SMP yang harus menunggu verifikasi dokumen, was-was soal jalur domisili yang menurut pengamat pendidikan justru "rawan dimanipulasi", lalu berdoa semoga rumahnya cukup dekat dengan sekolah negeri favorit—dekat secara administratif, bukan sekadar dekat secara perasaan.
Wajib Belajar 12 Tahun, Wajib Sabar Tanpa Batas Waktu
Pejabat kota dengan yakin menyampaikan komitmen menyukseskan program wajib belajar 12 tahun, memastikan tidak ada kendala administratif maupun teknis yang menghalangi niat warga untuk bersekolah. Niat memang tidak dihalangi. Hanya saja kapasitas ruang kelasnya yang masih perlu dimohon dengan sangat, agar bersedia menampung niat tersebut tanpa harus berbagi bangku dengan 39 anak lainnya.
Mungkin inilah definisi baru gotong royong ala kota industri: investor bergotong royong mengisi kawasan industri, sementara siswa bergotong royong mengisi satu ruang kelas yang sama, sama-sama padat, hanya beda nasib siapa yang dapat AC dan siapa yang dapat kipas angin butut peninggalan tahun ajaran lalu.
Pada akhirnya, Kota Bekasi memang layak disebut kota investasi. Hanya saja, mungkin ada baiknya sebagian dari triliunan rupiah yang masuk itu juga "berinvestasi" pada hal yang sedikit lebih membosankan tapi krusial: ruang kelas baru, dan terutama, guru. Karena percuma punya ribuan proyek industri kalau generasi yang akan mengisi pabrik-pabrik itu sepuluh tahun ke depan, hari ini saja sudah kesulitan mendapat tempat duduk yang layak di sekolah.
Referensi
- "Realisasi Investasi Kota Bekasi Triwulan I 2026 Tembus Rp5,3 Triliun, Sektor Industri Diantaranya" — Telusur News, 5 Mei 2026. telusurnews.com
- "SPMB 2026 Kota Bekasi: Cuma 20 Persen Sekolah Swasta Dilibatkan" — Bekasi Satu, 8 Juni 2026. bekasisatu.com
- "Jelang SPMB 2026, Pemkot Bekasi Siapkan Subsidi Sekolah Swasta bagi Warga Miskin" — inijabar.com, Mei 2026.
- "Jalur Domisili di Aturan Baru SPMB 2026 Kota Bekasi Dinilai Rawan Manipulasi" — inijabar.com, Mei 2026.
- "Hardiknas 2026, DPRD Kota Bekasi Kritik Persoalan Pendidikan yang Terus Berulang" — Bekasi Update, 2 Mei 2026. bekasiupdate.id
- "Syarat SPMB Kota Bekasi 2026 Belum Lengkap? Begini Solusi Disdik" — Bekasi Satu, 29 Mei 2026.
- "SPMB Kota Bekasi 2026, Pemerintah Pastikan Akses Pendidikan untuk Semua" — bekasikota.go.id, 10 Mei 2026.
