Moda Transportasi Kota Bekasi Antara Harapan, Keringat, dan Menunggu yang Tak Pasti

Sebagai warga Kota Bekasi, kita sebenarnya tidak muluk-muluk. Kita tidak butuh stasiun berlapis emas. Kita hanya ingin integrasi yang manusiawi.

 

Ilustrasi Gemini Ai

Mari kita bicara jujur sebentar. Menjadi warga Kota Bekasi itu butuh mental baja. Bukan cuma karena lelucon lawas soal "planet lain" atau karena matahari di sini rasanya ada dua (satu di atas kepala, satu lagi persis di depan wajah), tapi karena perjuangan kita menaklukkan jalanan setiap harinya.

Kita semua tahu rasanya. Pagi buta sudah harus bertarung dengan nasib, sore hari pulang dengan sisa tenaga, berharap sampai rumah masih waras. Karena transportasi publik di Kota Bekasi bukan sekadar alat angkut, ini adalah ujian kesabaran, wahana uji nyali, dan kadang di momen-momen langka, ini adalah sebuah anugerah.

Baiklah, mari kita bedah satu per satu "kawan kawan" perjalanan kita ini. Ada rasa cinta, benci, dan ironi yang bertumpuk tumpuk diantara mereka.

Commuter Line. Medan Perang yang kita rindukan. Siapa di sini yang pernah merasa tulang rusuknya bergeser sedikit saat pintu KRL menutup di Stasiun Bekasi jam 6.30 pagi? Commuter Line atau KRL ibarat tulang punggung kita. Kita tidak bisa hidup tanpanya, tapi hidup bersamanya pun rasanya seperti hubungan toksik. Secara data, KRL memang efisien. Murah, cepat sampai pusat Jakarta, tapi secara emosional? ini medan perang.

Kritik terbesarnya bukan pada keretanya, tapi pada kapasitas manusiawi yang sering terlupakan. Fasilitas di Stasiun Bekasi memang sudah megah, ada eskalator yang (kadang) jalan, hall yang luas, tapi begitu turun ke peron, hukum rimba berlaku. Kita berdesakan seperti sarden, menghirup aroma campur aduk antara parfum mahal, keringat, dan minyak angin.

Masalahnya klasik, frekuensi kereta tak pernah benar-benar cukup menampung ledakan populasi komuter Bekasi. Kita dipaksa maklum untuk berdiri satu kaki dari Bekasi sampai Manggarai. Dan bicara soal Manggarai, transit di sana adalah cerita horor tersendiri bagi warga Bekasi. Kita harus berlari, naik turun tangga, berebut ruang dengan ribuan manusia lain hanya untuk bisa duduk (atau berdiri lebih lega) menuju Sudirman.

LRT Jabodebek. Si anak emas yang masih canggung, anak baru yang kinclong, futuristik, dan... mahal.

Harus diakui, naik LRT dari Jatimulya rasanya seperti masuk ke dimensi lain. Dingin, sepi, bersih. Pemandangan tol yang macet di bawah sana memberikan kepuasan batin tersendiri. "Rasain lo macet, gue terbang," batin kita. Namun, LRT ini punya masalah pelik aksesibilitas. Stasiunnya megah, tapi bagaimana cara kita ke sana? Di sinilah letak ironinya. Stasiun LRT Jatimulya atau Bekasi Barat itu seperti pulau mewah di tengah lautan aspal yang semrawut.

Kantong parkir? terbatas dan mahal. Akses pejalan kaki? Jangan harap. Mau jalan kaki ke stasiun LRT seringkali berarti harus bertaruh nyawa menyeberangi jalan raya tanpa trotoar yang layak. Jadi, si anak emas ini hebat, tapi dia agak sulit didekati oleh rakyat jelata yang rumahnya jauh di dalam perumahan.

Trans Patriot. Mitos atau Fakta? Nah, ini bagian yang paling membingungkan. Trans Patriot seharusnya menjadi Bus Rapid Transit (BRT) kebanggaan kita, versi mini dari TransJakarta. Konsepnya mulia, menghubungkan kita dari perumahan ke stasiun atau pusat kota.Tapi, jujur saja, seberapa sering kita melihat bus ini lewat saat kita benar-benar membutuhkannya?

Masalah Trans Patriot adalah konsistensi dan sterilitas jalur. Rutenya ada, tapi armadanya terasa seperti hantu, kadang muncul, sering hilang. Dan ketika kita naik, bus ini tidak punya jalur khusus. Ia terjebak di kemacetan yang sama dengan angkot dan mobil pribadi.

Alhasil, naik Trans Patriot itu seperti perjudian waktu. Kita menunggu di halte (yang kadang kondisinya menyedihkan, penuh debu dan coretan), tapi tidak tahu kapan bus akan datang karena tidak ada aplikasi pelacak yang real-time dan akurat. Niat hati ingin mengurangi polusi dengan naik bus, ujung-ujungnya kita menyerah dan memesan ojek online karena takut terlambat.

Angkot (Koasi): Sang Raja Jalanan yang tak tergantikan, Koasi. Angkot cokelat dengan stiker-stiker "doa ibu" dan musik house yang dentumannya menggetarkan kaca jendela. Kita sering mencaci angkot karena sopirnya yang ngetem sembarangan di depan pintu tol atau memotong jalur seenaknya. Tapi, mari kita akui satu hal, tanpa angkot, sistem transportasi Bekasi akan lumpuh total. Mereka adalah satu-satunya yang mau masuk ke gang-gang perumahan, menembus banjir, dan mengantar kita dengan harga receh.

Sayangnya, tata kelolanya seolah tak tersentuh zaman. Armada yang tua, jok yang sudah tipis, dan panasnya yang menyengat membuat pengalaman naik angkot jadi ujian fisik. Belum lagi drama "oper penumpang" di tengah jalan. Rasanya sakit hati, kan, sudah duduk manis malah disuruh pindah ke angkot lain?

Pemerintah sepertinya bingung mau diapakan angkot ini. Dihapus tidak mungkin, diremajakan pun berjalan sangat lambat. Akhirnya, mereka tetap jadi raja jalanan yang liar tapi kita butuhkan.

Ojek Online: Penyelamat yang Menguras Dompet Karena LRT susah dijangkau, Trans Patriot jarang lewat, dan angkot terlalu lama ngetem, siapa pahlawan kita? Ojek online. Ojol adalah lem perekat yang menyatukan sistem transportasi kita yang retak-retak ini. Mereka mengisi gap yang gagal dipenuhi pemerintah “First Mile dan Last Mile”. Kita naik ojol dari rumah ke stasiun, lalu naik ojol lagi dari stasiun tujuan ke kantor.

Tapi ini menciptakan dilema finansial. Biaya transportasi kita membengkak. Kita bekerja untuk membayar ojol, agar bisa pergi bekerja. Ironis, bukan? Selain itu, banyaknya ojol yang mangkal di sekitar stasiun (karena tidak disediakan shelter yang memadai) justru menambah kemacetan baru. Lingkaran setan yang tak berujung.

Apa yang Sebenarnya Kita Rasakan?

Sebagai warga Kota Bekasi, kita sebenarnya tidak muluk-muluk. Kita tidak butuh stasiun berlapis emas. Kita hanya ingin integrasi yang manusiawi. Kita bermimpi bisa keluar dari rumah, jalan kaki di trotoar yang lebar dan teduh (bukan trotoar yang jadi tempat parkir motor atau lapak jualan), lalu naik bus kecil yang datang tepat waktu menuju stasiun LRT atau KRL.

Masalah utamanya adalah konektivitas. Saat ini, moda transportasi di Bekasi berjalan sendiri-sendiri. LRT jalan sendiri, KRL jalan sendiri, Angkot punya dunianya sendiri. Tidak ada satu sistem tiket atau jadwal yang mengikat mereka semua. Kita, penumpangnya, yang dipaksa menjadi atlet dadakan melompat dari satu moda ke moda lain dengan keringat bercucuran.

Mungkin suatu hari nanti, Bekasi akan punya sistem yang membuat kita merasa dimanusiakan. Sampai hari itu tiba, kita akan tetap berjuang, berdesakan di gerbong kereta, sambil saling melempar senyum kecut, tanda persaudaraan senasib sepenanggungan warga Planet Bekasi.

Satu langkah kecil untuk kita: Besok pagi, saat kamu merasa kesal karena tersikut di kereta atau kepanasan menunggu bus, coba tarik napas dan sadari bahwa kamu tidak sendirian. Kita semua sedang berjuang di aspal yang sama. Dan jika ada kesempatan, mari mulai bersuara lebih lantang lewat media sosial atau forum warga tentang perbaikan trotoar dan jadwal bus yang jelas. Karena kalau bukan kita yang rewel, siapa lagi?