Pada peringatan Hari Santri Nasional 2026, akun Instagram Inspektorat Kota Bekasi mengunggah visual ucapan bertema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas". Di dalam visual itu, seorang pejabat mengenakan selendang bermotif lukisan wajah Frida Kahlo, pelukis perempuan asal Meksiko.
Pemuda ICMI mempersoalkan unggahan tersebut karena memandangnya berbenturan dengan nilai santri, lalu mengajukan audiensi. Inspektorat menurunkan unggahan dan menyampaikan klarifikasi. Pihak inspektorat mengaku tidak mengetahui profil Frida Kahlo, sebab selendang itu oleh-oleh dari seorang teman. Persoalan selesai lewat dialog.
Peristiwa ini layak dibaca lebih jauh. Klarifikasi Inspektorat masuk akal, dan reaksi komunitas santri juga masuk akal. Keduanya terjadi sekaligus karena simbol bekerja di luar niat pemakainya. Antropologi dan sosiologi menyediakan perangkat untuk membaca gejala itu.
Simbol Menyimpan Banyak Makna
Victor Turner (1967) meneliti ritual masyarakat Ndembu di Zambia dan menemukan bahwa satu simbol ritual memuat banyak makna sekaligus. Ia menyebut sifat ini multivocal. Pohon mudyi dalam ritual pubertas perempuan Ndembu, misalnya, melambangkan air susu ibu dan garis keturunan matrilineal. Turner juga membedakan simbol dominan, yaitu simbol yang menjadi pusat ritual dan menunjuk pada nilai dasar sebuah komunitas.
Hari Santri bekerja sebagai ruang simbolik semacam itu. Presiden menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri lewat Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, dan tanggal itu mengacu pada Resolusi Jihad yang KH Hasyim Asy’ari serukan pada 22 Oktober 1945. Busana dan tokoh yang tampil dalam peringatan ini menjadi simbol dominan komunitas santri.
Visual Inspektorat memasuki ruang itu begitu memuat logo dan tema Hari Santri. Setiap unsur di dalamnya mendapat bacaan menurut sistem makna yang sudah ada, termasuk selendang yang dikenakan sang pejabat.
Materi yang Salah Tempat
Mary Douglas (1966) menulis bahwa sebuah benda tampak kotor ketika ia berada di luar tempat dalam sistem klasifikasi masyarakatnya. Ia memberi contoh sepatu. Sepatu yang rapi di rak terasa kotor ketika ia berada di atas meja makan. Douglas menyebut gejala ini matter out of place.
Konsep ini memungkinkan pembacaan tanpa penghakiman. Frida Kahlo menempati posisi sah dalam dunia seni. Hayden Herrera (1983) mencatat potret diri sebagai pokok lukisannya dan keberpihakannya pada politik kiri Meksiko. Wajahnya kini muncul di kaus, tas, dan selendang di banyak negara, dan di ruang-ruang itu ia tidak memicu keberatan.
Di dalam visual Hari Santri, komunitas santri membaca wajah yang sama sebagai materi yang salah tempat. Reaksi mereka mengikuti logika klasifikasi ruang itu. Pemakai selendang tidak perlu menyimpan maksud apa pun agar pembacaan tersebut terjadi.
Kuasa Simbolik Sebuah Institusi
Pierre Bourdieu (1991) mendefinisikan kuasa simbolik sebagai kemampuan membuat sebuah pandangan tentang dunia diterima sebagai sesuatu yang wajar. Kuasa ini bekerja lewat pengakuan, dan lembaga negara memegang banyak modal simbolik. Visual dari akun resmi inspektorat membawa otoritas negara, sehingga publik membaca pilihan visualnya sebagai pilihan yang sah. Selendang bermotif Kahlo ikut memperoleh kesan sah itu begitu tampil di visual resmi Hari Santri.
Bourdieu (1977) juga menyodorkan konsep habitus, yaitu pola persepsi dan tindakan yang terbentuk dari lingkungan sosial seseorang. Habitus birokrasi mengutamakan kepantasan seremonial. Habitus komunitas santri membaca atribut yang sama berdasarkan sejarah dan nilai. Klarifikasi Inspektorat memperlihatkan jarak antara keduanya: bagi pemakai, selendang pemberian teman sudah cukup menjadi alasan untuk memakainya. Bourdieu menamai keyakinan semacam ini doxa, yaitu hal yang diterima tanpa pernah dipertanyakan. Audiensi mengubah selendang itu menjadi hal yang dipertanyakan.
Audiensi sebagai Negosiasi Makna
Stuart Hall (1980) menjelaskan bahwa pengirim pesan menyandikan makna (encoding) dan penerima menafsirkannya (decoding) menurut posisi sosial masing-masing. Keduanya tidak selalu bertemu. Dalam kasus Bekasi, Inspektorat menyandikan sebuah ucapan selamat, sementara komunitas santri menafsirkan sebuah penyimpangan simbol.
Pemuda ICMI menempuh audiensi, dan Inspektorat mendengar lalu mengoreksi. Pertemuan itu mempertemukan sandi dan tafsir yang berbeda. Kedua pihak memperlakukan pihak lain sebagai pembaca yang sah atas ruangnya sendiri. Hasilnya berupa unggahan yang turun dan klarifikasi yang jelas.
Literasi Simbol dalam Tata Kelola Publik
Institusi publik mengelola banyak simbol: logo, seragam, visual peringatan, bahkan hadiah dari kolega. Setiap simbol bertemu dengan pembaca yang berbeda. Dua pertanyaan membantu sebelum sebuah visual terbit: siapa pembacanya, dan ruang makna apa yang mereka tempati. Tim kehumasan dapat menambahkan satu langkah sederhana, yaitu menanyakan asal-usul sebuah simbol kepada orang yang mengenal komunitas sasaran.
Literasi ini berlaku dua arah. Komunitas perlu membedakan ketidaktahuan dari niat, dan Pemuda ICMI menunjukkan sikap itu dengan menempuh audiensi. Pihak yang paham simbol membantu pihak yang belum paham tanpa menuduh.
Simbol dan Arah Gerakan
Eric Hobsbawm dan Terence Ranger (1983) menyoroti cara kelompok memakai simbol dan ritual untuk menyambungkan identitas masa kini dengan masa lalu. Hari Santri termasuk dalam kerja simbolik itu: Keputusan Presiden 22/2015 mengikat peringatan tahunan pada Resolusi Jihad 1945, dan tema seperti "Menuju Indonesia Emas" menunjukkan arah yang hendak komunitas tuju. Sebuah komunitas menentukan arah geraknya dengan merujuk pada simbol yang disepakati anggotanya.
Sebuah selendang dan satu unggahan memicu percakapan antara institusi negara dan organisasi pemuda. Percakapan itu berakhir dengan unggahan yang turun dan pemahaman yang bertambah di kedua pihak. Simbol di ruang publik akan terus bertemu dengan pembaca yang berbeda. Institusi yang membiasakan bertanya sebelum menerbitkan akan menjalani lebih sedikit klarifikasi mendadak, dan peristiwa di Bekasi memberi satu contoh yang bisa dipakai institusi lain.
Daftar Pustaka
- Bourdieu, Pierre. 1977. Outline of a Theory of Practice. Diterjemahkan oleh Richard Nice. Cambridge: Cambridge University Press.
- Bourdieu, Pierre. 1991. Language and Symbolic Power. Cambridge: Polity Press.
- Douglas, Mary. 1966. Purity and Danger: An Analysis of Concepts of Pollution and Taboo. New York: Praeger.
- Hall, Stuart. 1980. "Encoding/Decoding." Dalam Key works: Theories in communication studies. 2026. London: Springer Nature Link
- Herrera, Hayden. 1983. Frida: A Biography of Frida Kahlo. New York: Harper and Row.
- Hobsbawm, Eric, dan Terence Ranger, ed. 1983. The Invention of Tradition. Cambridge: Cambridge University Press.
- Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.
- Turner, Victor. 1967. The Forest of Symbols: Aspects of Ndembu Ritual. Ithaca: Cornell University Press.
- Unggahan Hari Santri Nasional 2026, akun Instagram @apip_bekasi (Inspektorat Kota Bekasi). Tangkapan layar dokumentasi penulis.



