Di Antara Bilik Suara dan Ruang Rapat DPRD -Tentang Biaya, dan Ketakutan Kita yang Sama

Kita pernah ada di sana. Kita pernah menyerahkan pilihan kepala daerah ke DPRD. Kita juga pernah bertepuk tangan ketika Pilkada langsung lahir,

 


Beberapa waktu terakhir, kita kembali mendengar wacana lama yang dihangatkan ulang: pemilihan kepala daerah oleh DPRD. Alasannya terdengar sederhana, bahkan masuk akal di telinga orang-orang yang lelah biaya Pilkada langsung terlalu mahal. Terlalu boros. Terlalu melelahkan negara. Terlalu banyak konflik. Dan entah sejak kapan, kalimat itu selalu diucapkan dengan nada seolah-olah kita semua sepakat, seolah-olah pengalaman kita sebagai pemilih tak pernah ada nilainya.

Jujur saja, saat pertama kali mendengar isu ini muncul lagi, perasaan kita campur aduk. Ada capek, ada curiga, ada juga rasa déjà vu. Seperti bertemu mantan yang dulu menyakiti, tapi kini datang dengan senyum dewasa dan alasan ekonomi yang terdengar rasional.

Kita pernah ada di sana. Kita pernah menyerahkan pilihan kepala daerah ke DPRD. Kita juga pernah bertepuk tangan ketika Pilkada langsung lahir, meski dengan segala kekurangannya. Maka wajar jika hari ini kita bertanya: apakah benar masalahnya cuma soal biaya?

Soal Mahal yang Selalu Diulang

Mari kita mulai dari isu yang paling sering dipukul-pukulkan: biaya Pilkada langsung. Data memang menunjukkan bahwa satu kali Pilkada serentak bisa menghabiskan puluhan triliun rupiah. Angka yang besar. Angka yang mudah membuat dahi berkerut, apalagi saat kita masih melihat jalan berlubang, sekolah reyot, dan puskesmas yang antreannya tak kunjung pendek. Tapi di sinilah kita perlu berhenti sejenak. Mahal dibanding apa?

Kalau kita mau jujur, demokrasi memang tidak pernah murah. Dari KPU, Bawaslu, logistik, keamanan, sampai honor petugas TPS yang rela duduk dari subuh sampai malam semua itu punya harga. Tapi biaya itu dibayar untuk satu hal yang sangat mendasar: hak kita untuk memilih secara langsung siapa yang memimpin daerah tempat kita hidup, bekerja, dan membesarkan anak-anak kita.

Yang jarang dibahas dengan nada yang sama lantangnya adalah biaya pemilihan oleh DPRD. Karena memang, biaya itu tidak tercantum rapi dalam APBD. Ia tidak muncul sebagai pos anggaran logistik. Ia tidak tercetak dalam jumlah surat suara. Biayanya mengalir di lorong-lorong yang lebih sunyi: lobi politik, transaksi pengaruh, kompromi kepentingan, dan kita semua tahu risiko politik uang yang justru lebih terkonsentrasi.

Mahal versi siapa yang sebenarnya sedang kita bicarakan?

Pengalaman Kecil yang Tak Pernah Masuk Data

Kita mungkin pernah mengantar orang tua ke TPS. Atau ikut menjadi KPPS karena kekurangan petugas. Atau sekadar duduk di warung kopi, mendengar debat sengit soal calon bupati yang katanya “itu mah boneka partai”. Semua pengalaman kecil ini tidak pernah masuk tabel anggaran, tapi membentuk rasa memiliki kita terhadap proses demokrasi.

Pemilihan langsung memberi ruang bagi warga biasa untuk ikut merasa terlibat. Meski sering kali kita kecewa pada hasilnya, setidaknya kekecewaan itu datang dari pilihan kita sendiri. Ada rasa tanggung jawab kolektif di situ, sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan efisiensi anggaran.

Ketika pemilihan dialihkan ke DPRD, hubungan emosional itu terpotong. Kita kembali menjadi penonton. Kita kembali duduk di bangku belakang, sementara keputusan penting diambil di ruang rapat ber-AC yang pintunya tertutup rapat. Dan anehnya, kita diminta percaya bahwa itu semua demi menghemat uang kita.

Kompleksitas yang Sering Disederhanakan

Pilkada langsung memang bermasalah. Kita tidak perlu menutup mata. Politik uang masih terjadi. Polarisasi sosial nyata. Konflik horizontal kadang menyisakan luka panjang. Kepala daerah terpilih sering kali tersandera utang politik kepada tim sukses dan sponsor kampanye.

Tapi apakah semua itu otomatis hilang jika pemilihan dilakukan oleh DPRD?

Sejarah justru menunjukkan sebaliknya. Pada masa ketika kepala daerah dipilih oleh DPRD, praktik “serangan fajar” tidak menghilang, ia hanya pindah sasaran. Dari jutaan pemilih ke puluhan anggota dewan. Dari biaya kampanye terbuka ke biaya lobi tertutup. Secara matematis, malah lebih efisien bagi aktor politik yang ingin “mengamankan” hasil.

Kompleksitas Pilkada langsung sering diperlakukan seolah-olah penyakit bawaan yang tak bisa disembuhkan. Padahal, banyak masalah itu lahir dari setengah hati kita dalam memperbaiki sistem: penegakan hukum yang lemah, pendidikan politik yang minim, partai politik yang malas melakukan kaderisasi.

Alih-alih membenahi akar masalah, kita justru tergoda memotong jalannya.

Catatan Sejarah yang Terlalu Cepat Dilupakan

Wacana ini bukan barang baru. Ia muncul, tenggelam, lalu muncul lagi setiap kali demokrasi terasa melelahkan. Setelah Reformasi 1998, pemilihan kepala daerah oleh DPRD dianggap sebagai kompromi awal. Tapi pengalaman pahit segera muncul: praktik jual beli suara, intervensi elit pusat, dan kepala daerah yang lebih loyal pada fraksi daripada rakyat.

Dorongan untuk Pilkada langsung lahir dari kekecewaan itu. Dari rasa ingin merebut kembali kedaulatan yang terlalu lama dititipkan. Kita ingin punya hak memilih, meski konsekuensinya berat.

Kini, dua dekade kemudian, ketika Pilkada langsung belum sepenuhnya matang, nostalgia itu datang kembali. Tapi nostalgia sering kali menipu. Ia memilih ingatan yang nyaman, dan menghapus bagian yang menyakitkan.

Ironi tentang Efisiensi yang Aneh

Ada ironi yang sulit diabaikan. Kita hidup di negara yang tidak pernah benar-benar pelit soal anggaran elite: perjalanan dinas, gedung megah, rapat-rapat panjang yang hasilnya sering tak jelas. Tapi ketika bicara soal hak pilih rakyat, tiba-tiba kita menjadi sangat hemat.

Seolah-olah suara kita adalah pos pengeluaran yang bisa dipangkas. Seolah-olah demokrasi ideal adalah demokrasi yang tidak terlalu sering melibatkan rakyat, karena rakyat itu ribet, mahal, dan sulit diatur.

Padahal, jika yang ingin dihemat adalah uang negara, mungkin kita perlu mulai dari tempat lain yang lebih jujur. Dari pembenahan partai politik. Dari transparansi pendanaan kampanye. Dari keberanian menghukum pelanggaran tanpa pandang bulu.

Dilema Kita yang Sebenarnya

Kita tidak sedang memilih antara sistem yang sempurna dan sistem yang rusak. Kita sedang memilih antara dua sistem yang sama-sama bermasalah, tapi dengan dampak yang sangat berbeda terhadap posisi rakyat.

Pemilihan langsung memberi kita ruang, meski sempit dan sering berantakan. Pemilihan oleh DPRD memberi efisiensi prosedural, tapi mengorbankan keterlibatan publik.

Mungkin yang kita rasakan hari ini bukan sekadar soal biaya. Mungkin ini tentang kelelahan kolektif. Tentang rasa frustrasi melihat demokrasi tak kunjung dewasa. Tentang keinginan untuk jalan pintas.

Tapi sejarah mengajarkan kita satu hal: jalan pintas dalam demokrasi sering kali berujung pada jalan buntu.

Menutup dengan Kejujuran

Tulisan ini bukan pembelaan membabi buta terhadap Pilkada langsung. Kita tahu betul cacatnya. Kita hidup di dalamnya. Tapi jika pilihan yang ditawarkan adalah mundur ke sistem yang pernah kita tinggalkan karena alasan yang sama, mahal, kotor, dan tidak transparan, maka wajar jika kita ragu.

Mungkin yang perlu kita tanyakan bukan “berapa mahal Pilkada langsung?”, tapi “berapa harga yang harus kita bayar jika suara kita kembali diwakilkan sepenuhnya?”

Dan pertanyaan itu, sayangnya, tidak bisa dijawab hanya dengan angka di tabel anggaran. Ia hidup di ingatan kita, di pengalaman sehari-hari, dan di rasa memiliki yang perlahan bisa hilang jika kita tak hati-hati menjaganya.

Karena pada akhirnya, demokrasi bukan soal murah atau mahal. Ia soal siapa yang dipercaya untuk menentukan arah hidup bersama. Dan itu adalah keputusan yang terlalu penting untuk dibahas dengan setengah hati.