Menjaga Generasi Lewat Gizi: Refleksi MBG di Kota Bekasi

Kota Bekasi, dengan karakter sosial, ekonomi yang heterogen, menghadapi tantangan khas perkotaan: ketimpangan pendapatan, perubahan pola konsumsi

Penulis: Kurniawan Prambudi Utomo, SE., MM( Sekretaris Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Pemuda ICMI Kota Bekasi)

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, merupakan kebijakan strategis nasional yang menempatkan pemenuhan gizi anak sekolah sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia menyongsong generasi emas 2045, yang harus menyasar keseluruh Nusantara. Di tengah bonus demografi yang tengah dinikmati Indonesia, kualitas pertumbuhan anak tidak hanya soal kuantitas makanan, tetapi kualitas gizi yang memengaruhi kesehatan, konsentrasi belajar, dan produktivitas jangka panjang.


Ilustrasi : Gemini Ai

Kota Bekasi, dengan karakter sosial, ekonomi yang heterogen, menghadapi tantangan khas perkotaan: ketimpangan pendapatan, perubahan pola konsumsi, hingga kerentanan anak terhadap hidden hunger. Di lingkungan sekolah, meskipun sebagian siswa cukup makan secara kuantitatif, kualitas nutrisinya sering kali belum optimal, yang berimbas pada kesehatan dan prestasi akademik. MBG di Bekasi hadir sebagai respons terhadap dinamika tersebut. Program ini menyediakan makanan sehat dan bergizi bagi siswa dari jenjang PAUD hingga SMA, dengan tujuan memperkuat status gizi dan menumbuhkan kebiasaan makan sehat sejak dini.

Capaian MBG di Kota Bekasi

Menurut laporan terbaru, Program MBG di Kota Bekasi telah menjangkau lebih dari 200.000 siswa dari berbagai jenjang pendidikan setiap hari. Data menunjukkan sampai September 2025, sekitar 201.640 siswa tercatat menerima makan bergizi gratis melalui implementasi program ini. Pelaksanaan program ini difasilitasi oleh 76 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang terdaftar di seluruh wilayah Kota Bekasi. Dari jumlah tersebut, 56 SPPG telah beroperasi penuh dan melayani distribusi makanan bergizi ke sekolah-sekolah di 12 kecamatan, sementara 20 SPPG lainnya masih dalam proses penyelesaian fasilitas dan perizinan operasional. Sejak tahap awal pada Januari 2025, implementasi program MBG dimulai di beberapa titik dengan layanan makan bergizi yang menjangkau ±3.222 siswa dari berbagai sekolah di Jatiasih, termasuk TK, SD, dan SMP. (dikutip dari GoBekasi.id)


Belum Semua Sekolah Tercover

Meski sudah terjadi perluasan cakupan, kenyataannya belum seluruh sekolah di Kota Bekasi tercover MBG. Dari total sekolah di berbagai jenjang, sebagian besar masih dalam proses masuk fase program karena keterbatasan infrastruktur SPPG dan kesiapan logistik. Hal ini menegaskan bahwa perlu percepatan implementasi serta penataan yang lebih sistemik agar semua siswa yang membutuhkan dapat dilayani. Selain itu, survei monitoring & evaluasi yang dilakukan oleh BPS Kota Bekasi tengah digelar untuk memahami lebih detail dampak program di tingkat sekolah, rumah tangga, dan pelaku penyedia makan bergizi. Survei ini melibatkan partisipasi siswa, orang tua, sekolah, dan pelaku usaha penyedia SPPG untuk melihat efektivitas, kendala, dan persepsi terhadap layanan MBG di lapangan. Monitoring MBG tidak hanya menjadi tanggung jawab satu lembaga, tetapi merupakan hasil kolaborasi pengawasan antara pusat dan daerah, termasuk pemantauan kualitas makanan, audit anggaran, evaluasi data, serta pengawasan administratif. Semua ini penting agar program MBG benar-benar aman, efektif, dan berdampak jangka panjang bagi pertumbuhan generasi sehat di Indonesia.

Kritik Konstruktif: Program Harus Berbasis Data & Kualitas

Namun, MBG berpotensi kehilangan makna strategis apabila direduksi menjadi sekadar kuantitas distribusi berapa banyak porsi tersalurkan atau berapa besar anggaran terserap tanpa ukuran kualitas dan dampak jangka panjang, hal ini seharusnya melibatkan semua pihak, mulai dari kantin sehat sekolah, UMKM lokal dan masyarakat sekitaran, tidak semata-mata dilakukan secara tunggal oleh SPPG, dan jangan ada yang dirugikan, karena tugas dan tanggung jawab menyehatkan anak sekolah ada pada kita semua. Tanpa indikator gizi yang terukur, evaluasi berbasis bukti (evidence-based) dan transparansi publik, program ini bisa terjebak pada rutinitas administratif yang minim dampak substantif.

Penguatan tata kelola seperti standar gizi terukur, sertifikasi keamanan pangan, integrasi data kesehatan pendidikan, serta koordinasi lintas sektor antara pemerintah daerah, sekolah, dan dinas kesehatan sangat diperlukan, sebagian dana yang digelontorkan melalui efisiensi APBN bidang pendidikan sebanyak 230 Triliun harus jelas mulai dari perencanaan, distribusi lapangan hingga monitoring evaluasi (Monev). Hanya dengan cara itu, MBG tidak hanya menjadi program sosialisasi semata, tetapi benar-benar menjadi instrumen transformasi sosial untuk menghasilkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.

MBG dalam Bingkai Moral & Peradaban

Dalam perspektif intelektual Muslim dan semangat yang diusung Pemuda ICMI Kota Bekasi, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sejalan dengan prinsip maslahah, keadilan sosial, dan amanah negara dalam menjaga generasi. Pemenuhan gizi anak tidak dapat dipandang semata sebagai urusan teknis kebijakan, melainkan sebagai tanggung jawab etik yang melekat pada negara dan masyarakat. Pada titik ini, kebijakan publik menemukan maknanya bukan hanya pada capaian administratif, tetapi pada sejauh mana ia menghadirkan kemaslahatan yang berkelanjutan. Oleh karena itu, kehadiran moral leadership menjadi elemen yang tidak terpisahkan. Kepemimpinan yang berorientasi pada nilai/moral dituntut untuk menempatkan kualitas manusia dan etika pelayanan di atas kepentingan jangka pendek. Sinergi yang sehat antara negara dan civil society termasuk peran cendekiawan dan akademisi menjadi ruang refleksi sekaligus pengawasan agar MBG tetap berada pada tujuan luhurnya. Dengan pendekatan demikian, MBG berpeluang menjadi fondasi bagi Bekasi yang tidak hanya berkembang secara ekonomi, tetapi juga bertumbuh secara sosial dan bermartabat secara moral.